Latest News

8 Mitos Tentang Makanan Bayi Yang Harus Diabaikan

Pernahkah Anda mendengar satu atau lebih mitos tentang makanan bayi? Misal, "jangan kasih telur ke bayi", "boleh bayi minum jus buah", dan sebagainya.

Meskipun kebutuhan nutrisi bayi Setiap hari pasti terpenuhi dengan baik, Anda juga perlu mengetahui kebenaran berbagai mitos makanan bayi. Apa saja mitos makanan bayi yang sering beredar di masyarakat?

Mitos tentang makanan bayi yang perlu diketahui

Sejak bayi mulai belajar makan Makanan Pendamping ASI (MPASI), orang tua perlu benar-benar memperhatikan pengolahan dan pemberian makanan bayi.

Anda perlu mendaftar Jadwal MPASI secara teratur, mendesain menu makanan padat bayi, untuk memperhatikan makanan dan minuman apa saja yang boleh dan tidak boleh diberikan.

Selain mendukung tumbuh kembang, asupan makanan yang tepat juga dicegah bayi mengalami kesulitan makan agar tidak make up bayi mengalami masalah gizi.

Nah, berikut berbagai mitos makanan bayi yang perlu dicari tahu kebenarannya:

Mitos 1: "Makan malam bisa bikin bayi cacingan"

Menu makanan bayi 8 bulan

Setiap bayi pada dasarnya memiliki tingkat rasa lapar yang berbeda-beda. Salah satu faktor yang menentukan adalah kebiasaan pemberian ASI atau formula bayi.

Secara umum, bayi yang diberi ASI cenderung lebih cepat lapar dibandingkan bayi yang diberi susu formula (sufor).

Ini karena ASI lebih mudah dicerna oleh tubuh bayi. Jadi, bila bayi yang menyusui kembali lapar di malam hari bukan berarti ia cacingan.

Padahal, infeksi cacing dan aktivitas pemberian makan pada bayi tidak berhubungan.

Cacingan merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit yang berkembang biak di dalam sistem pencernaan manusia.

Cacingan merupakan salah satu jenis penyakit yang sering terjadi baik tua maupun muda. Meski begitu, cacingan lebih banyak menyerang anak-anak.

Namun makanan yang kotor karena telah terkontaminasi telur cacing atau proses pemasakan yang buruk berisiko membuat telur cacing tidak mati total.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan bayi mengalami cacingan.

Begitu pula anak-anak bisa terkena cacingan jika Anda atau pengasuhnya tidak langsung mencuci tangan setelah ke toilet, membersihkan pantat bayi, atau berkebun.

Penting juga untuk membiasakan untuk selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum memasak makan malam.

Apalagi gerakan tubuh bayi masih sangat terbatas. Oleh karena itu, faktor risiko cacingan pada bayi terbesar adalah melalui berbagai peralatan dan alat yang mungkin telah terkontaminasi telur cacing.

Selanjutnya telur cacing tersebut secara tidak sengaja masuk ke tubuh bayi melalui mulut.

Hal-hal tersebut memungkinkan cacing tumbuh dan berkembang dalam sistem pencernaan bayi.

Jadi ini hanya mitos makanan bayi karena bukan makan malam yang bikin bayi cacingan.

Namun, kenajisan dalam merawat bayi yang meningkatkan risiko bayi cacingan.

Mitos 2: "Menyembunyikan sayuran dalam makanan bayi agar dia menyukai sayuran"

Makanan bayi 11 bulan

Sebenarnya menyembunyikan sayur pada makanan bayi agar dia menyukai sayur hanyalah mitos belaka.

Kebanyakan orang tua lebih suka menyembunyikan sayuran di piring makanan bayi daripada menunjukkannya secara terbuka.

Untuk menyembunyikan sayuran dalam makanan bayi kelilingi bayi yang tidak suka makan sayur.

Sayuran diolah sedemikian rupa agar tetap tercampur dalam makanan tanpa disadari si kecil, mitu di belakang telur dadar.

Kebutuhan nutrisi harian bayi tetap akan tercukupi, namun cara ini tidak akan menyadarkan bayi akan manfaat dan rasa sayur segar.

Nah, hal seperti ini bisa terus berlanjut hingga ia dewasa. Solusi lain, Tidak ada salahnya menampilkan sayuran secara eksplisit pada menu makanan bayi.

Agar lebih menarik, Anda bisa berkreasi dengan variasi resep sayuran untuk anak-anak.

Ambil contoh brokoli yang dibentuk menjadi rambut orang, wortel menjadi bentuk bunga atau matahari, dan sebagainya.

Sehingga seiring berjalannya waktu bayi tumbuh dan terbiasa dengan sayuran sehingga dapat mematahkan mitos makanan bayi tentang menyembunyikan sayuran.

Jangan lupa kenalkan manfaat berbagai jenis sayuran saat menemani bayi makan agar ia juga paham bahwa makan sayur itu penting.

Mitos 3: "Makanan bayi tidak boleh ditambah dengan perasa"

makanan hangat pada bayi

Mitos mengenai makanan bayi selanjutnya yang masih sering terdengar adalah sebaiknya Anda tidak menambahkan perasa pada menu makanan si kecil.

Di sisi lain, bayi hanya diperbolehkan makan makanan hambar tanpa tambahan rasa garam, gula atau micin.

Mitos makanan bayi ini jelas tidak benar. Bayi tepatnya harus dikenalkan dengan berbagai jenis rasa makanan sejak usia dini.

Pasalnya, sedini mungkin adalah waktu terbaik untuk menerima dan mengenali selera baru.

Pengenalan rasa sudah dimulai sejak diberikan ASI EksklusifYaitu melalui makanan yang dimakan oleh ibu.

Jadi, jangan sungkan untuk memperkenalkan berbagai rasa secara bertahap mulai usia 6 bulan. Ambil contoh dengan mengenalkan sayur pahit, rasa gurih dari ikan, atau rasa manis dari buah.

Malah tidak apa-apa kalau mau menambahkan perasa seperti gula, garam, dan micin ke makanan bayi.

Dengan catatan, tambahan perasa seperti gula, garam, dan micin diberikan dalam jumlah yang cukup.

Berdasarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)Untuk makanan bayi yang berumur kurang dari satu tahun sebaiknya tetap ditambahkan perasa seperti gula pasir dan garam secukupnya.

Pemberian penyedap tambahan ini diperbolehkan agar anak lebih semangat makan.

Jika selama ini si kecil cenderung menolak makanan, coba ingat-ingat apakah Anda menambahkan perasa seperti gula, garam, dan micin.

Ada kemungkinan bayi mengalami kesulitan makan karena menurutnya makanan tersebut kurang enak untuknya.

Selain membuat bayi makan, menambahkan perasa juga dapat membantu mengembangkan nafsu makan bayi di kemudian hari.

Mitos 4: "Bayi bisa diberi jus buah sejak dini"

jus buah untuk bayi

Bayi yang berusia di atas enam bulan diperbolehkan makan makanan pendamping, termasuk mengonsumsi berbagai makanan dan minuman.

Namun, jika bayi berusia kurang dari 12 bulan atau 1 tahun, jus buah untuk bayi tidak diperbolehkan, termasuk jus buah kemasan.

Rekomendasi untuk tidak memberikan jus buah kepada bayi berusia kurang dari satu tahun berdasarkan pedoman baru dari American Academy of Pediatrics (AAP).

Jus buah murni memang mengandung banyak vitamin untuk bayi, tapi bukan berarti bisa menjadi pengganti buah dan sayur utuh.

Alih-alih menambah nutrisi, jus buah justru kurang baik untuk kesehatan anak karena tinggi kalori dan gula, tapi rendah serat.

Ambil contoh, apel ukuran sedang mengandung 4,4 gram serat dan 19 gram gula. Saat dijus, satu cangkir saja mengandung 114 kalori, 0,5 gram serat, dan 24 gram gula.

Oleh karena itu, sajikan hanya buahnya secara utuh saja, bukan disajikan dalam bentuk jus agar kebutuhan serat anak tetap terpenuhi.

Tak hanya itu, memberikan jus buah pada bayi juga bisa membuat mereka cepat kenyang karena ukuran perutnya yang kecil.

Hal ini tentunya berdampak pada nafsu makan bayi yang menurun sehingga tidak mau makan berat lagi karena sudah merasa kenyang.

Mitos 5: "Bayi tidak boleh makan telur"

setengah telur rebus

Banyak orang tua yang khawatir anaknya akan terkena kolesterol tinggi saat diberi telur. Eits, tunggu dulu, ini sebenarnya hanya mitos makanan bayi dan jelas tidak benar.

Telur adalah sumber protein yang bagus, yang mengandung banyak zat besi dan seng, yang penting untuk pertumbuhan bayi.

Namun, sebelum memberikan telur kepada anak, tentukan dulu apakah anak alergi telur.

Jika Anda memiliki riwayat alergi telur, dokter Anda mungkin menyarankan Anda untuk menunggu sampai anak Anda berusia 2 tahun sebelum mengenalkan telur.

Mitos 6: "Bayi harus sering ngemil"

Makanan padat bayi 9 bulan

Selain makan saat makan utama, bayi juga membutuhkan camilan dalam jumlah yang cukup. Sebab jika terlalu berlebihan, camilan bayi cenderung berkontribusi pada asupan kalori berlebih.

Bagaimana jika bayinya lapar tapi belum waktunya makan? Tenang saja, karena si kecil sebenarnya akan baik-baik saja dengan diet tiga kali makan utama sehari dan satu hingga dua camilan sehat.

Menerapkan jadwal makan bayi secara rutin sangat bagus untuk melatih kepekaannya terhadap rasa lapar.

Anda bisa memberikan camilan untuk bayi berupa buah atau sayur. Jenis snack atau camilan sebagian lainnya juga dapat diberikan sebagai camilan bayi dalam porsi yang lebih kecil daripada makanan utama.

Mitos 7: "Perkenalkan bayi pada sayuran sebelum memberinya buah"

memproses bayi

Faktanya, tidak ada aturan dan urutan khusus untuk memperkenalkan makanan tertentu kepada bayi.

Tidak apa-apa untuk mulai memberi makan bayi Anda dengan sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral sejak usia enam bulan.

Sebenarnya tidak masalah jika Anda memberikan sayuran bersama dengan buah atau salah satunya terlebih dahulu.

Pasalnya, tidak ada bukti bahwa bayi yang diperkenalkan dengan buah lebih dulu lebih sulit menerima sayuran atau sebaliknya.

Meluncurkan dari halaman Anak Sehat, bayi memang memiliki kecenderungan menyukai rasa manis.

Itulah mengapa bayi menyukai ASI yang merupakan makanan dan minuman pertamanya karena memiliki rasa asli yang cenderung manis.

Meski begitu, pemberian makan dengan urutan apapun tidak akan mempengaruhi kesukaan bayi terhadap jenis makanan tertentu.

Bayi umumnya terus belajar menyukai berbagai rasa makanan lain jika Anda diperkenalkan dengan berbagai makanan sejak dini.

Tak perlu khawatir, bayi yang mendapat sayur atau buah lebih dulu tetap bisa dengan mudah mengonsumsi makanan lain.

Kuncinya, mulailah membiasakan bayi dengan berbagai rasa dan tekstur makanan seiring bertambahnya usia.

Mitos 8: "Jika anak-anak tidak suka makanan tertentu, biarkan saja"

MPASI 6 bulan makanan bayi 6 bulan, makanan bayi

Saat bayi mulai menolak makan saat baru menyusu 1-2 kali, biasanya orang tua akan menyerah dan menyimpulkan bahwa bayi tidak menyukainya.

Ini sebenarnya mitos lain tentang makanan bayi. Kebiasaan ini sebaiknya tidak dilanjutkan karena dapat membuat bayi cenderung pilih-pilih makanan.

Anak-anak biasanya membutuhkan waktu untuk mencoba makanan hingga paling sedikit 15 kali ditawarkan.

Sajikan berulang kali makanan dan pastikan anak akan menyukainya perlahan. Di awal perkenalan dengan jenis makanan tertentu, bayi mungkin masih terkejut dengan makanan barunya.

Jangan menyerah untuk menawarkan makanan baru sebanyak yang Anda bisa.

Anda juga bisa memadukan makanan baru dengan makanan favoritnya untuk memancing nafsu makan si kecil.

Cuma bila sudah dikasih kurang lebih 15 kali jenis makanan yang sama tapi bayi tetap menolak, bisa disimpulkan dia sangat tidak suka.

Pos 8 Mitos Tentang Makanan Bayi Yang Harus Diabaikan muncul pertama kali Halo Sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top