• No products in the cart.
View Cart
Subtotal: Rp0

Latest News

Bagaimana menyampaikan bahwa anak Anda terinfeksi HIV

HIV / AIDS adalah penyakit yang masih menjadi salah satu masalah utama di dunia. Kasus-kasus kejadian juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain orang dewasa, jumlah penderitanya HIV pada anak-anak juga tergolong tinggi, yaitu sekitar 1,8 juta. Salah satu tantangan yang harus dihadapi orang tua adalah bagaimana memberi tahu mereka jika anak mereka terinfeksi HIV.

Bagaimana anak-anak bisa terkena HIV?

Penularan HIV / AIDS dapat terjadi dalam beberapa cara. Salah satunya adalah dari seorang ibu yang menderita HIV / AIDS hingga anaknya. Bagaimana ini bisa terjadi?

Penularan virus HIV dari ibu yang positif dengan penyakit ini disebut penularan dari ibu ke anak. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (SIAPA), ketika orang dengan HIV / AIDS (ODHA) akan melahirkan bayi mereka, persentase peluang bayi yang terpapar virus HIV adalah sekitar 15-45%.

Selain melalui persalinan, bayi juga berisiko tertular HIV setelah menyusui dari ibu mereka. Karena itu, dokter biasanya akan mencegahnya Penderita HIV memberikan ASI eksklusif untuk bayi.

Jadi, bisakah peluang ini dicegah? Dengan perawatan medis yang tepat selama kehamilan, persalinan, hingga saat menyusui, peluang anak Anda terkena HIV dapat dikurangi sebanyak 5%. Salah satunya dengan memberi obat antiretroviral (ARV) pada wanita hamil.

Lalu, bagaimana Anda tahu bahwa anak Anda terinfeksi HIV?

Tidak semua pencegahan akan menghasilkan buah yang baik. Demikian juga, upaya untuk mencegah bayi Anda lahir bebas dari virus HIV. Selain menghadapi kenyataan bahwa bayi Anda harus hidup dengan penyakit ini, Anda mungkin juga memikirkan apakah anak Anda perlu mengetahui kondisi kesehatannya.

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian orang tua ketika anaknya terkena HIV. Dengan memberitahukan kondisi tersebut, kemungkinan anak-anak akan kesulitan memahami sepenuhnya penyakit mereka, merasa berbeda, dan mendapatkan stigma negatif dari lingkungan sekitar, terutama teman sebaya mereka.

Namun, sebagai penderita, penting bagi anak-anak untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka. Hal ini dijelaskan oleh Inez Kristanti, seorang psikolog klinis dan pendidik seks saat ditemui oleh Tim Hello Sehat pada presentasi survei terkait pendidikan seks di area SCBD, Kamis (21/11).

Menurut Inez, memberi tahu anak-anak bahwa HIV itu penting adalah salah satu cara untuk mempersiapkan anak sebelum mereka tumbuh dewasa. Seiring waktu, seorang anak harus bertanggung jawab penuh atas kondisi tubuhnya, dan bagaimana mengendalikannya.

"Misalnya, anak-anak harus minum obat ARV seumur hidup secara mandiri. Tidak mungkin orang tua akan menemani anak itu seumur hidupnya," jelas Inez.

Psikolog yang sering berbagi informasi tentang pendidikan seksual di akun media sosialnya juga menekankan bahwa orang tua harus memberi tahu anak-anak mereka pada saat yang tepat. Saat itu biasanya ketika anak siap untuk menjaga kesehatannya sendiri.

Penting juga bagi orang tua untuk tidak hanya memberi tahu anak-anak mereka tentang status penyakit mereka. Orang tua juga perlu menjelaskan pengetahuan mendalam terkait dengan HIV itu sendiri, terutama jika orang tua juga ODHA.

Inez menambahkan, "Tidak hanya anak-anak, hampir semua orang takut diberi diagnosis, tetapi tidak dididik tentang cara hidup dengan penyakit ini."

Misalnya, orang tua dapat meyakinkan anak yang terkena HIV bahwa ia dapat benar-benar hidup seperti orang tanpa HIV, asalkan ia minum obat secara teratur selama sisa hidupnya. Pendidikan juga penting sebagai pencegahan penularan dari anak Anda ke orang lain.

Pos Bagaimana menyampaikan bahwa anak Anda terinfeksi HIV muncul pertama kali Halo sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top