Latest News

Etika Batuk yang Benar untuk Mencegah Penularan Penyakit

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi patogen seperti virus dan bakteri dapat menular. Penularan penyakit menular dapat terjadi melalui kontak langsung atau bahkan menghirup udara yang mengandung tetesan patogen yang dilepaskan saat berbicara, bersin, dan batuk. Karena itu, penting bagi Anda untuk mengetahui etika atau prosedur batuk yang tepat sehingga Anda dapat mencegah penularan penyakit kepada orang lain.

Batuk etis yang benar meminimalkan risiko penularan penyakit

Di Century normal baru, Anda perlu berlatih etika batuk di mana pun dan kapan pun. Etika batuk penting untuk meminimalkan penularan penyakit. Batuk yang terjadi sesekali sebenarnya adalah hal yang wajar, tetapi perlu dipertimbangkan secara etis.

Batuk adalah bentuk alami dari respons tubuh karena adanya zat asing yang masuk ke sistem pernapasan. Refleks ini menjadi cara tubuh untuk menghilangkan kotoran atau iritasi yang mengganggu sistem pernapasan.

Jika itu terjadi sesekali, batuk sebenarnya adalah mekanisme yang sangat normal. Batuk berfungsi untuk menghilangkan berbagai kotoran atau iritasi yang dapat mengganggu sistem pernapasan dari tubuh.

Namun, batuk yang berlangsung terus menerus dapat mengindikasikan masalah pada sistem pernapasan atau penyakit lainnya.

Batuk adalah gejala yang paling umum dialami ketika infeksi patogen terjadi, yaitu mikroorganisme yang menyebabkan penyakit seperti virus dan bakteri, di saluran pernapasan. Misalnya, infeksi virus yang menyebabkan flu dan dingin adalah penyakit penyebab batuk berdahak paling sering dialami atau asma yang menyebabkan batuk kering.

Penularan penyakit ini dapat terjadi dengan sangat cepat dari orang ke orang karena virus menyebabkannya terkandung dalam tetesan lendir yang dilepaskan ketika bersin dan batuk.

Jika penyebaran tetesan virus dapat dibatasi, penularan penyakit juga dapat diminimalkan. Penerapan etika batuk dapat membantu mengendalikan penyebaran virus yang menyebabkan infeksi sistem pernapasan.

Cara yang benar untuk menerapkan etika batuk

Etika batuk memang harus tetap dilakukan, walaupun Anda dalam keadaan sehat. Sementara itu, orang sakit sangat berkewajiban menerapkan etika batuk ini.

Cara paling umum untuk mencegah penyebaran penyakit adalah dengan menutup mulut dan hidung dengan tangan saat bersin dan batuk.

Memblokir tetesan luas dengan menutup mulut dan hidung adalah tepat. Namun, bahkan menggunakan telapak tangan Anda masih bisa menyebarkan patogen melalui sentuhan. Tanpa disadari Anda telah memindahkan bakteri dari telapak tangan ke benda atau orang lain yang akan melakukan kontak dengan tangan Anda.

Penggunaan sapu tangan untuk menutup batuk juga tidak tepat. Alih-alih menghindari kontak dengan kuman, organisme berbahaya ini sebenarnya bisa terjebak di dalam. Jika Anda sakit, kemungkinan infeksi ulang akan lebih tinggi.

Namun etika batuk lebih dari sekadar menutupi mulut dan hidung, ada beberapa langkah lain yang juga perlu diikuti.

1. Tutupi hidung dan mulut dengan tisu

Batuk dengan tisu

Jika ingin batuk, etika yang tepat adalah segera mengambil tisu untuk menutupi mulut dan hidung Anda. Segera buang tisu yang digunakan di tempat sampah, sebelum tisu disentuh atau bahkan digunakan oleh orang lain.

Batuk itu sendiri adalah refleks yang terkadang sulit dikendalikan. Ada saat-saat Anda ingin batuk tetapi tidak punya waktu untuk mengambil tisu untuk menutupi mulut dan hidung Anda.

Kemudian batuk di bagian dalam lengan atas Anda, bukan di telapak tangan Anda. Lengan atas adalah bagian yang jarang bersentuhan dengan benda (gagang pintu, alat pemotong, atau telepon) atau sentuhan fisik seperti ketika berjabat tangan dengan orang lain.

2. Menjaga jarak dari orang lain

Pertahankan jarak saat etika batuk

Saat batuk, jangan lupa memalingkan wajah Anda dari orang-orang di sekitar Anda. Etika batuk seperti ini dilakukan untuk memastikan tidak ada percikan tetesan pada tubuh atau wajah orang lain.

Beranjak dari orang lain juga penting karena menurut Dr. Frank Esper dari Klinik Cleveland, kuman yang dilepaskan saat batuk bisa dikeluarkan sejauh 1-2 meter.

3. Cuci tangan Anda menggunakan sabun

Cuci tangan Anda dengan sabun

Ingatlah untuk selalu mencuci tangan setelah batuk. Sebagian besar penyakit pernapasan berbahaya menyebar karena kontak dengan tangan yang terkontaminasi patogen pada wajah.

Etika cuci tangan dengan benar adalah menggunakan sabun dan air mengalir. Cairan pembersih lain seperti sanitizer juga bisa digunakan asalkan mengandung alkohol dengan konsentrasi 60-95 persen.

Selama mencuci tangan, pastikan Anda membersihkan semua bagian telapak tangan, termasuk menggosok di antara jari-jari Anda. Lakukan selama 20 detik sehingga patogen pelindung tubuh sepenuhnya dihancurkan oleh air sehingga tidak dapat lagi menginfeksi tubuh secara aktif.

Dalam etika batuk, membersihkan tangan dengan sabun dan air mengalir lebih efektif karena dengan batu aliran air kuman dapat langsung dipisahkan dari permukaan tangan.

4. Gunakan masker saat sakit

Menggunakan topeng sebagai batuk etis

Terakhir, gunakan masker jika Anda merasakan sakit dan batuk terus-menerus.

Penggunaan topeng juga harus digunakan dengan tepat. Ganti masker secara berkala atau cuci dengan sabun yang mengandung desinfektan jika Anda menggunakan bahan masker yang bisa digunakan kembali.

Hindari penggunaan masker yang sudah kotor dan lembab karena sebenarnya bisa menjadi lingkungan yang kondusif untuk penyakit perkembangbiakan kuman.

Meskipun Anda sudah mengenakan topeng, cobalah untuk menjauh dari orang lain ketika Anda batuk sehingga tidak menyebarkan kuman.

Etika batuk itu dilakukan saat merasa sakit

menjauhlah dari orang lain

Setiap langkah etis dalam batuk harus diterapkan ketika batuk di mana saja, terutama di tempat atau fasilitas umum yang penuh sesak dengan orang. Begitu juga saat Anda sendirian karena tetesan masih bisa bergerak di udara atau menempel di permukaan benda.

Jika batuk adalah gejala penyakit menular, sebaiknya Anda beristirahat di rumah dan menghindari tempat-tempat ramai seperti kantor, pasar, dan sekolah jika memungkinkan. Ini dilakukan untuk menghindari kontak fisik dan menjaga jarak dari orang lain sehingga mencegah penularan kuman.

Selain itu, akan lebih baik jika Anda juga mengenali gejala lain penyakit yang menyebabkan batuk secara umum. Pelaporan dari Klinik Mayo, penyakit seperti pilek dan flu dapat menyebabkan masalah kesehatan lain yang terjadi bersamaan dengan batuk, seperti:

  • Demam
  • Tenggorokan kering
  • Nyeri tubuh, terutama pada persendian dan otot
  • Sulit untuk bernafas
  • Hidung meler dan pengap
  • Sakit kepala
  • Kelelahan atau kelemahan tubuh
  • Diare dan muntah

Batuk yang disebabkan oleh pilek atau flu biasanya akan berhenti dalam waktu kurang dari seminggu, bahkan lebih cepat jika Anda melakukan perawatan sederhana untuk meredakan batuk. Misalnya dengan meningkatkan konsumsi cairan, istirahat, dan minum obat batuk.

Ada serangkaian obat batuk yang secara aktif mengurangi berbagai batuk berdasarkan gejala. Sesuaikan obat batuk dengan masalah batuk Anda, apakah itu batuk berdahak, tidak ada dahak, batuk dan demam, atau batuk berdahak yang disebabkan oleh alergi. Segera minum obat batuk untuk melengkapi gejala batuk yang cocok, sehingga Anda dapat kembali berkomunikasi dengan lancar dan menjalani aktivitas yang lebih optimal.

Namun, jika Anda batuk terus menerus selama lebih dari 2 minggu meski sudah minum obat batuk, maka Anda perlu ke dokter sesegera mungkin. Dokter akan merekomendasikan obat batuk benar dengan jenis batuk yang Anda alami. Namun hati-hati, gejala batuk seperti ini dapat menyebabkan kondisi batuk kronis yang merupakan penanda masalah pernapasan yang lebih serius.

Ingat, etika batuk seperti menggunakan tisu atau bagian dalam lengan atas, menjaga jarak dari orang lain, dan mencuci tangan sesudahnya juga berlaku saat bersin.

Pos Etika Batuk yang Benar untuk Mencegah Penularan Penyakit muncul pertama kali Halo sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top