Latest News

Memerangi COVID-19: Tidak Ada Lagi Tenaga Medis yang Akan Mati

Baca semua artikel berita tentang coronavirus (COVID-19) sini.

Hari-hari berubah menjadi bulan. Indonesia sudah enam bulan berada di dalamnya pandemi virus corona. Berbagai upaya dari bidang kesehatan telah dicoba. Namun, penyebarannya belum berhenti, ratusan nyawa belum terselamatkan, termasuk para dokter yang memerangi COVID-19 di garis depan perang.

Dokter dan tenaga medis yang meninggal karena COVID-19

dokter melawan COVID-19

Hingga 31 Agustus 2020, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat sebanyak 100 dokter meninggal dunia akibat COVID-19. Sementara itu, Ikatan Perawat Nasional Indonesia, pada pertengahan Juli lalu, melaporkan sedikitnya 51 perawat meninggal dunia akibat tertular virus corona. Jumlah tersebut belum termasuk petugas kesehatan lain di berbagai daerah yang telah terjangkit COVID-19 dan terpaksa menutup akses fasilitas rumah sakit.

Kehilangan ratusan tenaga medis merupakan kekalahan besar. Apalagi mengingat rasio dokter di Indonesia adalah 0,4: 1000 alias 1 dokter untuk 2.500 orang. Artinya, kehilangan 100 dokter sama dengan hilangnya kemampuan pelayanan kesehatan bagi 250.000 orang.

Dokter dan tenaga medis berada di garis depan perang melawan pandemi COVID-19. Di satu sisi, fokus mereka di tempat kerja menentukan keselamatan pasien. Di sisi lain, profesi ini menempatkan mereka pada posisi yang paling rentan diserang.

Setiap dokter dan perawat harus dilengkapi APD lengkap sesuai standar penanganan wabah COVID-19. Btenaga medis aik yang menghadapi pasien positif COVID-19 serta tenaga medis yang menangani pasien dengan keluhan lain.

Langkah-langkahnya adalah dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap, menjaga jarak, dan meminimalkan kontak. Sayangnya, APD sebagai salah satu senjata terpenting kebutuhannya masih belum terpenuhi di berbagai daerah.

Hal ini membuat posisi rentan tenaga medis semakin mendesak.

Update Jumlah Distribusi COVID-19
Negara: Indonesia<! – : ->

Data Harian

187.537

Dikonfirmasi

<! –

->

134.181

Sembuh

<! –

->

7.832

Mati

<! –

->

Peta Distribusi

<! –

->

Tenaga medis tahu betul bahaya dari posisi pekerjaan, tetapi mereka masih ada. Menghadapi musuh yang tak terlihat dalam sepuluh ribu jas hujan.

Para dokter ini tahu betul bahayanya melawan COVID-19 tanpa APD lumayan, tapi masih ada.

Terima kasih banyak, Pahlawan Kemanusiaan!

Bantuan yang dibutuhkan tenaga medis dan yang dapat diberikan oleh masyarakat

dokter melawan COVID-19

Untuk menghormati dokter dan tenaga medis yang berada di lokasi utama memerangi COVID-19, masyarakat diminta untuk tinggal di rumah. Banding itu ditambahkan dengan saran Melakukan jarak fisik dan menghindari kontak fisik untuk meminimalkan potensi penularan.

Para petugas medis bergerak berkampanye, "Kami tetap bekerja untuk Anda, Anda tetap di rumah untuk kami." Mereka berpesan kepada masyarakat agar tetap di rumah untuk membantu tenaga medis agar tidak kebanjiran pasien yang bisa mengakibatkan pasien tidak dirawat.

Kampanye tersebut semakin digaungkan oleh publik figur, selebritis dan publik di media sosial. Kampanye ini diharapkan mampu menyadarkan masyarakat sekaligus mendorong gerakan penggalangan dana.

Tetapi itu saja tidak cukup untuk membantu dokter melawan COVID-19.

“Sekarang kami tidak kuncitara, hanya banding yang benar di lapangan tidak semuanya taat karena banyak faktor. Kami juga tidak melakukannya penyaringan besar-besaran, pakai itu tes cepat hasilnya kurang (akurat), ”ujar dr. Jimmy Tandradynata Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam di RS Siloam Cilandak, Jakarta.

Dokter Jimmy memprediksikan kalau terus begini, dokter & # 39; Perjuangan melawan pandemi COVID-19 di Indonesia masih akan berlangsung hingga beberapa bulan mendatang.

Pemerintah Indonesia sejak awal menekankan hal itu kuncitara atau karantina kota bukan pilihan mereka dalam menangani COVID-19.

Pada akhir Maret (31/3), pemerintah menetapkan aturan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB). Presiden Jokowi mengatakan setiap keputusan yang diambil pemerintah terkait penanganan COVID-19 harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak terburu-buru.

Perpres ini pertama kali diberlakukan di Jakarta pada Jumat (10/4). Pada hari itu, angka positif COVID-19 di Indonesia mencapai 3.512 orang.

Bantuan yang dibutuhkan tenaga medis dan apa yang bisa dilakukan pemerintah

dokter melawan COVID-19

Untuk membantu dokter dan tenaga medis dalam menangani COVID-19, perlu ada upaya luar biasa dari semua sektor, terutama pemerintah.

Menurut dr. Tri Maharani, penanganan COVID-19 membutuhkan keterikatan untuk semua pergerakan yang sudah dilakukan.

Kepala Ruang Gawat Darurat (IGD) RSUD Daha Husada, Kediri menegaskan, regulasi pemerintah menjadi kunci penentu keberhasilan pandemi virus corona di Indonesia.

Para dokter mengira jika Indonesia sudah bergerak sejak virus pertama kali muncul dari China pada awal Januari, mungkin ratusan nyawa tidak bisa diselamatkan.

Masa lalu tidak untuk disesali, tetapi juga untuk dipelajari. Para dokter saat ini meminta dukungan semua pihak, terutama pemerintah, untuk membantu mereka melawan COVID-19.

Beberapa di antaranya adalah: memastikan ketersediaan APD, mengontrol harga, melatih tenaga medis, dan menyediakan peralatan dibutuhkan untuk penanganan mengancam nyawa (mengancam nyawa) seperti ventilator.

Kisah Dokter Gawat Darurat, Garis Depan Penanganan COVID-19 di Indonesia

Jumat (10/4), Pimpinan Pusat Ketua Umum Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) menulis surat terbuka berjudul & # 39; My Country Don & # 39; t Lose & # 39; kepada Presiden Jokowi. PDUI meminta Jokowi menjamin ketersediaan APD bagi petugas medis.

Ratusan ribu petugas kesehatan gelisah, resah, cemas, cemas, dan marah karena APD langka. Sementara hati nurani terganggu, mereka tidak tega melihat pasiennya semoga kesakitan, tulis Ketua Pimpinan Pusat. PDUI, Dr. Abraham Andi Padlan Patarai, M.Kes dalam suratnya.

“Rekan kita, dokter yang sudah meninggal, ada lebih dari 30 orang. Berapa banyak lagi yang harus ditambahkan ke daftar kematian,” lanjutnya.

(function () {
window.mc4wp = window.mc4wp || {
pendengar: [],
formulir: {
on: function (evt, cb) {
window.mc4wp.listeners.push (
{
acara: evt,
panggilan balik: cb
}
);
}
}
}
}) ();

#mc_embed_signup> div {
lebar maksimal: 350 piksel; latar belakang: # c9e5ff; radius batas: 6 piksel; bantalan: 13px;
}
#mc_embed_signup> div> p {
tinggi garis: 1,17; ukuran font: 24px; warna: # 284a75; font-weight: bold; margin: 0 0 10px 0; spasi huruf: -1.3px;
}
#mc_embed_signup> div> div: tipe-n (1n) {
lebar maksimal: 280 piksel; warna: # 284a75; ukuran font: 12px; tinggi garis: 1.67;
}
#mc_embed_signup> div> div: tipe-n (2n) {
margin: 10px 0px; tampilan: flex; margin-bottom: 5px
}
#mc_embed_signup> div> div: tipe-n (3n) {
ukuran font: 8px; tinggi garis: 1,65; margin-top: 10px;
}
#mc_embed_signup> masukan div[type=”email”] {
ukuran font: 13px; lebar maksimal: 240 piksel; melenturkan: 1; bantalan: 0 12px; min-height: 36px; batas: tidak ada; box-shadow: tidak ada; batas: tidak ada; garis besar: tidak ada; radius batas: 0; min-height: 36px; batas: 1px solid #fff; border-right: tidak ada; radius batas kanan atas: 0; radius batas kanan bawah: 0; radius batas kiri atas: 8px; radius batas kiri bawah: 8px;
}
#mc_embed_signup> masukan div[type=”submit”] {
ukuran font: 11px; spasi huruf: normal; padding: 12px 20px; font-weight: 600; penampilan: tidak ada; garis besar: tidak ada; warna-latar belakang: # 284a75; warna putih; box-shadow: tidak ada; batas: tidak ada; garis besar: tidak ada; radius batas: 0; min-height: 36px; radius batas kanan atas: 8px; radius batas kanan bawah: 8px;
}
.category-template-category – covid-19-php #mc_embed_signup .mc_signup_title,
.category-template-category – covid-19-php #mc_embed_signup .mc_signup_description,
.category-template-category – covid-19-php #mc_embed_signup .mc_signup_tnc {
tampilan: tidak ada;
}
.category-template-category – covid-19-php .mc4wp-response {
ukuran font: 15px;
tinggi baris: 26px;
spasi-huruf: -.07px;
warna: # 284a75;
}
.category-template-category – covid-19-php .myth-busted .mc4wp-response,
.category-template-category – covid-19-php .myth-busted #mc_embed_signup> div {
margin: 0. 30px;
}
.category-template-category – covid-19-php .mc4wp-form {
margin-bottom: 20px;
}
.category-template-category – covid-19-php #mc_embed_signup> div> .field-submit,
.category-template-category – covid-19-php #mc_embed_signup> div {
max-width: tidak disetel;
padding: 0px;
}

.category-template-category – covid-19-php #mc_embed_signup> masukan div[type=”email”] {
-ms-flex-positif: 1;
flex-grow: 1;
radius batas kiri atas: 8px;
radius batas kiri bawah: 8px;
radius batas kanan atas: 0;
radius batas kanan bawah: 0;
padding: 6px 23px 8px;
batas: tidak ada;
lebar maksimal: 500 piksel;
}

.category-template-category – covid-19-php #mc_embed_signup> masukan div[type=”submit”] {
batas: tidak ada;
radius batas: 0;
radius batas kanan atas: 0px;
radius batas kanan bawah: 0px;
latar belakang: # 284a75;
box-shadow: tidak ada;
warna: #fff;
radius batas kanan atas: 8px;
radius batas kanan bawah: 8px;
ukuran font: 15px;
font-weight: 700;
text-shadow: tidak ada;
padding: 5px 30px;
}

form.mc4wp-form label {
tampilan: tidak ada;
}

Bantu dokter dan tenaga medis lainnya mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Pos Memerangi COVID-19: Tidak Ada Lagi Tenaga Medis yang Akan Mati muncul pertama kali Halo Sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top