• No products in the cart.
View Cart
Subtotal: Rp0

Latest News

Paracetamol vs Ibuprofen: Obat Mana yang Harus Anda Konsumsi?

Terlepas dari begitu banyaknya nama merek dagang dan berbagai tampilan kemasan produk, pada dasarnya ada dua jenis utama obat penghilang rasa sakit (analgesik) yang dijual bebas yang beredar di luar sana, parasetamol vs ibuprofen.

Paracetamol alias acetaminophen yang ditemukan di Panadol, Bisolvon, Tempra, dan sebagainya. Sedangkan ibuprofen termasuk sebagai obat anti inflamasi non steroid (NSAID) ibuprofen (Advil atau Proris), naproxen, dan aspirin.

Ibuprofen dan parasetamol adalah obat penghilang rasa sakit dan penurun demam yang paling umum digunakan, terutama pada anak-anak. Meski keduanya sering dibingungkan dan dibingungkan satu sama lain, ternyata ada lebih banyak perbedaan antara kedua obat tersebut dari yang mungkin kita bayangkan.

Ibuprofen dan parasetamol berbeda dalam cara kerjanya, seberapa cepat kerjanya, dan berapa lama bertahan di dalam tubuh, dan dalam hal apa obat tersebut dapat diberikan, serta risiko efek samping dan interaksi dengan obat lain.

Berikut panduan kami untuk menemukan pereda nyeri terbaik antara parasetamol vs ibuprofen untuk keluhan spesifik Anda.

Paracetamol vs Ibuprofen

Kapan menggunakan parasetamol?

Parasetamol telah digunakan dengan aman selama bertahun-tahun untuk membantu meredakan nyeri ringan hingga sedang dan demam untuk bayi di atas usia 1 bulan, anak-anak, dan orang dewasa. Obat analgesik ini bertindak sebagai pereda nyeri umum dan memiliki efek yang mirip dengan aspirin. Namun, tidak seperti aspirin yang merupakan obat anti inflamasi, parasetamol tidak mempercepat penyembuhan peradangan.

Artinya, jika Anda kesakitan karena pergelangan kaki bengkak karena keseleo, mungkin lebih baik mengonsumsi Proris daripada menelan satu tablet Panadol. Parasetamol juga tidak akan bekerja efektif untuk menyembuhkan sakit pinggang.

Parasetamol sebenarnya lebih dikenal fungsinya untuk menurunkan demam berkat sifat anti piretik (penurun suhu) yang berguna untuk gejala flu, pilek dan batuk. Obat ini juga sangat baik untuk demam yang disertai masuk angin dan sakit kepala tegang. Parasetamol juga digunakan untuk meredakan sakit kepala, sakit tenggorokan, dan sebagian besar nyeri non-saraf (nyeri otot dan sendi, serta nyeri haid / kram perut, misalnya) dari ringan hingga sedang. Dilansir Medical Daily, menurut temuan studi baru dari Australia, parasetamol mungkin memberikan sedikit manfaat jangka pendek bagi penderita osteoartritis.

Beberapa sakit tenggorokan disebabkan oleh bakteri infeksius sekunder, tetapi kebanyakan disebabkan oleh virus. Untuk sakit tenggorokan, yang tidak ingin Anda lakukan adalah mengecilkan pertahanan alami tubuh, sistem kekebalan. Ibuprofen dan aspirin adalah obat antiinflamasi nonsteroid – mereka meredam respon inflamasi tubuh, mekanisme pertahanan tubuh. Dengan demikian, ini membuat parasetamol (yang merupakan obat penghilang rasa sakit, tetapi bukan anti-inflamasi) menjadi pilihan yang lebih baik.

Meskipun tidak ada bukti tentang cara kerjanya, satu teori menduga bahwa parasetamol menghentikan persepsi rasa sakit dan pelepasan bahan kimia tertentu di otak – yang terjadi sebagai respons terhadap rasa sakit. Parasetamol dapat digunakan saat perut kosong atau setelah makan.

Kapan harus minum ibuprofen

Ibuprofen tampaknya bekerja lebih baik bila ada bukti jelas penyebab inflamasi di tubuh Anda, seperti artritis atau nyeri leher, dan cedera lainnya. Ibuprofen juga efektif dalam mengobati demam, sakit kepala normal sampai sedang, migrain, sakit kepala tegang, sakit gigi, reumatik, osteoartritis, artritis remaja, nyeri punggung bawah, bengkak karena keseleo atau keseleo, hingga nyeri pasca operasi.

Ibuprofen bekerja dengan dua cara: pertama, memblokir produksi bahan kimia seperti prostaglandin di aliran darah yang menyebabkan peradangan dan nyeri. Kedua, ibuprofen bekerja dengan mengurangi peradangan atau iritasi di sekitar luka, sehingga mempercepat proses penyembuhan.

Orang dewasa dapat menggunakan ibuprofen bersama dengan parasetamol jika perlu, tetapi ini tidak dianjurkan untuk anak-anak. Efek penghilang rasa sakit dari ibuprofen dimulai segera setelah mengambil dosis, tetapi efek antiinflamasinya terkadang membutuhkan waktu hingga tiga minggu untuk mendapatkan hasil terbaik.

Ibuprofen dapat meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke yang fatal, terutama jika Anda menggunakannya dalam jangka panjang atau dalam dosis tinggi, atau jika Anda menderita penyakit jantung. Jangan gunakan obat ini sebelum atau sesudah operasi bypass jantung. Menggunakan NSAID setelah makan dapat membantu mencegah iritasi lambung.

Masih bingung kapan harus mengonsumsi parasetamol atau ibuprofen?

Pos Paracetamol vs Ibuprofen: Obat Mana yang Harus Anda Konsumsi? muncul pertama kali Halo Sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top