Latest News

Perkembangan Menjanjikan Sejumlah Calon Vaksin COVID-19

Ada ratusan kandidat vaksin COVID-19 yang sedang dikembangkan di berbagai negara di dunia. Mulai dari vaksin yang dikembangkan dengan cara melemahkan virus korona hingga yang dibuat dari potongan genetik virus.

Pengembangan vaksin umumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mencapai tahap pengujian pada manusia dan dapat digunakan secara massal. Tetapi untuk melawan COVID-19, para ilmuwan berusaha keras untuk menyelesaikan pengembangan vaksin dalam waktu singkat.

Kandidat vaksin COVID-19 manakah yang berpotensi lolos uji? Mengapa banyak negara mengembangkan vaksinnya sendiri dengan melibatkan negara lain sebagai uji klinis? Simak ulasannya berikut ini.

Perkembangan Terbaru Calon Vaksin COVID-19

vaksin moderna covid-19, istilah baru dalam penanganan pasien covid-19 dengan regimen obat vaksin covid-19 Indonesia

1. Vaksin COVID-19 Universitas Oxford/ Astrazeneca, Inggris

Kandidat vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh peneliti dari University of Oxford, Inggris, bekerja sama dengan perusahaan farmasi yang saat ini bernama Astrazeneca ChAdOx1 nCoV-19 atau dikenal sebagai Vaksin Oxford.

Vaksin ini akan dibuat dari adenovirus aktif, virus flu yang biasa menyerang simpanse. Peneliti melemahkan virus tersebut sehingga tidak berbahaya bagi tubuh manusia, kemudian menambahkan kode genetik virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Preklinik

Penelitian pada monyet menunjukkan vaksin ini dapat memberikan perlindungan dari virus Corona. Meski kandidat vaksin tidak mencegah kera terinfeksi virus Corona, hal itu bisa mencegah mereka mengalami gejala penyakit. Hasil praklinis dipublikasikan pada pertengahan Mei (13/5/2020).

Uji Klinis Tahap 1 dan 2

Fase uji klinis ini menunjukkan vaksin Oxford mampu memicu antibodi dan sel pertahanan tubuh lainnya terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Kandidat vaksin ini juga terbukti aman dan tidak menimbulkan efek samping yang serius pada peserta tes. Hasil uji klinis fase 1/2 dipublikasikan pada 20 Juli (20/7/2020).

Uji Klinis Tahap 3

Uji klinis tahap akhir sedang dilakukan di Brasil dan akan melibatkan total 5.000 peserta. Uji klinis Oxford untuk vaksin COVID-19 juga sedang dilakukan di Inggris, India, dan Afrika Selatan.

Perusahaan Astrazeneca yakin bahwa kandidat vaksinnya akan siap untuk produksi massal pada bulan Oktober, tetapi itu semua tergantung pada hasil klinis fase 3.

2. Vaksin COVID-19 Sinovac dari Cina

Vaksin COVID-19 yang satu ini dikembangkan oleh Sinovac Biotech, perusahaan bioteknologi asal China. Pengembangan vAxin ini terbuat dari virus SARS-CoV-2 yang sepenuhnya tidak aktif.

Uji Klinis Tahap 1

Tes dilakukan terhadap 144 peserta yang terdiri dari orang dewasa berusia 18-59 tahun.

Uji Klinis Tahap 2

Uji coba fase 2 ini melibatkan 600 peserta dalam rentang usia yang sama dengan uji klinis fase 1.

Hasil dari uji klinis fase 1 dan 2 dilaporkan aman dan tidak ada efek samping yang serius pada peserta. Hasil uji klinis tahap 2 menunjukkan bahwa calon vaksin ini mampu memicu pembentukan antibodi yang dapat menetralkan virus. SARS-CoV-2 menyebabkan COVID-19.

Uji Klinis Tahap 3

Sinovac melakukan uji coba pada 9.000 peserta di Brasil dan 4.200 peserta di Bangladesh. Agustus ini, Sinovac juga bekerja sama dengan perusahaan farmasi Indonesia, Bio Farma, untuk melakukan hal tersebut uji coba di Bandung yang akan melibatkan 1.620 relawan.

3. Vaksin COVID-19 Moderna dari Amerika Serikat

Moderna Vaccine dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Moderna dan Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NNH). Kandidat yang disebut vaksin mRNA-1273 dikembangkan dari mRNA atau rekayasa genetika untuk virus SARS-CoV-2.

Preklinik

Berdasarkan hasil percobaan pada hewan, vaksin ini dapat melindungi monyet dari infeksi virus Corona.

Uji Klinis Tahap 1

Uji klinis fase 1 telah dilakukan pada Maret lalu dan dikatakan sebagai yang pertama menguji kandidat vaksin COVID19 pada manusia.

Uji Klinis Tahap 2

Uji coba tahap 2 dilakukan dengan melibatkan 600 peserta.

Uji Klinis Tahap 3

Tes tahap akhir ini dilakukan terhadap 30.000 peserta di 89 wilayah di Amerika Serikat.

4. CanSino Biologics / Institut Bioteknologi Beijing

Perusahaan Cina CanSino Biologics bekerja sama dengan Institute of Biology di Akademi Ilmu Kedokteran Militer mengembangkan vaksin COVID-19 dari Adenovirus. Berbeda dengan Oxford, vaksin COVID-19 akan menggunakan jenis Adenovirus yang menginfeksi manusia.

Uji Klinis Tahap 1

Uji coba tahap pertama selesai Mei lalu dengan hasil yang aman dan menjanjikan.

Uji Klinis Tahap 2

Uji coba manusia fase 2 dilakukan di Wuhan dengan melibatkan 508 peserta.

5. Vaksin COVID-19 Sinopharm

Grup Farmasi Nasional China (Sinopharm) menguji dua kandidat vaksin COVID-19, yaitu yang dikembangkan oleh Institut Produk Biologi Beijing dan dikembangkan oleh Institut Wuhan.

Uji Klinis Tahap 3

Uji coba manusia terakhir pada vaksin ini dilakukan di Uni Emirat Arab, dengan kedua versi vaksin tersebut masing-masing melibatkan 5.000 peserta.

6. Pfizer / BioNTech / Fosun Pharmaceutical

Perusahaan Jerman BioNTech bermitra dengan Pfizer dan perusahaan farmasi Fosun. Mereka mengembangkan vaksin tipe mRNA.

Uji Klinis Tahap 1 dan 2

Tahap pertama uji coba pada manusia terbukti berhasil memicu antibodi melawan SARS-CoV-2. Vaksin tersebut terbukti aman dan tidak menimbulkan efek samping yang serius, kecuali beberapa peserta pada tahap tes ini dilaporkan mengalami gangguan tidur dan nyeri lengan.

Uji Klinis Tahap 3

Uji coba pada tahap ini dilakukan dengan melibatkan 30.000 peserta di Amerika Serikat dan beberapa negara lain, antara lain Argentina, Brazil, dan Jerman.

Tahapan Pembuatan Vaksin Yang Perlu Anda Ketahui

tahapan pembuatan vaksin covid-19

Pengembangan vaksin sejauh ini merupakan pilihan terbaik untuk menghentikan pandemi COVID-19 di seluruh dunia. Namun membuat vaksin bukanlah perkara mudah, ada tahapan panjang yang harus dilalui.

Setiap calon vaksin harus melalui praklinik yaitu uji hewan. Pengujian pada hewan (biasanya pada tikus atau monyet) merupakan tahap awal untuk mengetahui apakah vaksin ini dapat memicu respon imun yang kuat atau tidak.

Setelah lulus uji praklinik, menurut American Center for Disease Control (CDC), uji klinis vaksin harus melalui 3 tahap pengujian.

Dalam uji klinis fase 1, para ilmuwan akan memberikan vaksin kepada sejumlah kecil orang untuk memastikan vaksin tersebut berhasil merangsang sistem kekebalan.

Memasuki fase 2, penelitian diperluas dan vaksin diberikan kepada orang yang karakteristiknya seperti usia dan kesehatan fisik yang mirip dengan orang yang terinfeksi. Uji klinis pada tahap ini dilakukan untuk memeriksa lebih lanjut keamanan kandidat vaksin dan kemampuannya untuk menstimulasi respon imun.

Sejauh ini, kandidat vaksin COVID-19 yang telah melalui uji klinis fase 2 rata-rata melakukan uji coba pada kelompok usia 18-55 tahun. Sehingga belum diketahui apakah vaksin tersebut akan efektif pada kelompok usia di luar peserta tes, terutama lansia yang memiliki risiko lebih tinggi tertular COVID-19 dan cenderung tidak memiliki respon imun yang kuat.

Lanjut ke fase 3, pengujian dilakukan pada banyak orang (ribuan) dan menunggu untuk melihat jumlah peserta yang terinfeksi.

Tes tahap 3 ini untuk mengetahui apakah calon vaksin dapat memberikan perlindungan dari infeksi COVID-19. Khusus untuk vaksin COVID-19, WHO mengatakan calon vaksin hanya perlu efektif melindungi setidaknya 50% orang yang divaksinasi.

Cara paling efektif dalam uji klinis tahap akhir adalah menguji sejumlah besar peserta di zona merah atau area dengan tingkat penularan tinggi. Oleh karena itu, kandidat vaksin yang memasuki uji klinis fase tiga melibatkan beberapa negara dalam proses pengujian.

Pos Perkembangan Menjanjikan Sejumlah Calon Vaksin COVID-19 muncul pertama kali Halo Sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top