• No products in the cart.
View Cart
Subtotal: Rp0

Latest News

Setelah makan, gula darah Anda turun drastis? Apa alasannya?

Banyak orang merasa mengantuk dan lemas setelah makan. Ini sebenarnya masih normal. Namun, Anda perlu berhati-hati jika muncul gejala lain. Misalnya, pikiran menjadi linglung, badan berkeringat, atau gemetar. Bisa jadi Anda mengalami kondisi gula darah rendah setelah makan yang disebut juga hipoglikemia reaktif. Apa itu hipoglikemia reaktif? Apakah berbahaya jika gula darah turun? Temukan jawabannya disini.

Mengenali Kadar Gula Darah Dalam Tubuh

Setelah makan, gula (glukosa) diserap, berpindah dari saluran usus, melewati sel usus, kemudian masuk ke pembuluh darah. Dalam keadaan ini, gula darah meningkat dan menjadi sumber energi utama. Umumnya makanan diserap dalam waktu empat jam. Setelah itu, tubuh masuk ke dalam kondisi berpuasa. Dalam keadaan ini, sumber energi untuk beraktivitas berasal dari cadangan energi di dalam tubuh.

Perubahan kadar gula darah setelah absorpsi dan pada fase puasa ini tidak berubah terlalu banyak karena tubuh sudah hormon insulin dan glukagon untuk mengontrol gula darah. Jika terlalu tinggi, hormon insulin akan dilepaskan untuk menurunkan kadar gula darah dengan cara memasukkan gula darah ke dalam sel. Sedangkan glukagon dilepaskan saat kadar gula darah rendah membentuk glukosa dari cadangan nutrisi tubuh, sehingga kadarnya bisa dinaikkan.

Apa itu hipoglikemia reaktif?

Ketika kadar gula darah turun di bawah 70 mg / dL, kondisi ini disebut hipoglikemia. Kondisi ini, atau pada penderita diabetes yang sering disebut dengan "hypo", juga bisa dialami oleh orang yang tidak memiliki riwayat penyakit kencing manis (non diabetes). Ada dua jenis hipoglikemia non-diabetes:

  1. Hipoglikemia reaktif, yaitu hipoglikemia yang terjadi dalam beberapa jam setelah makan.
  2. Hipoglikemia puasa, yaitu hipoglikemia yang tidak berhubungan dengan makan. Umumnya terkait dengan suatu penyakit, seperti penggunaan obat-obatan (antibiotik golongan salisilat, sulfa atau kina), alkohol, penyakit hati, ginjal dan jantung yang parah, insulinoma, dan kadar hormon glukagon yang rendah.

Hipoglikemia reaktif dapat terjadi pada beberapa kondisi seperti pra-diabetes atau risiko diabetes, obesitas, operasi lambung, dan defisiensi enzim.

Selain itu, jika Anda mengonsumsi makanan yang terlalu manis atau mengandung terlalu banyak karbohidrat (makanan dengan nilai indeks glikemik tinggi), kadar gula darah Anda akan naik terlalu tinggi sehingga hormon insulin dilepaskan banyak. Akibatnya akan terjadi penurunan gula darah dalam waktu yang singkat dan penurunan tersebut bisa cukup drastis.

Apa saja gejala hipoglikemia reaktif?

Gejala hipoglikemia reaktif sama dengan hipoglikemia pada umumnya. Hipoglikemia atau penurunan drastis gula darah dapat ditandai dengan gejala berikut:

  • Kelaparan
  • Tubuh gemetar
  • Mengantuk dan lemas
  • Gelisah
  • Pusing
  • Linglung
  • Berkeringat
  • Kram di sekitar mulut

Jika gejala seperti ini muncul, segera tentukan apakah kadar gula darah Anda benar-benar rendah dan konsultasikan ke dokter untuk melakukan beberapa tes lain seperti pengecekan toleransi glukosa darah dan kadar insulin.

Apa yang harus dilakukan jika gula darah turun setelah makan

Untuk pengobatan hipoglikemia reaktif segera konsumsi karbohidrat yang bekerja cepat (dalam bentuk jus atau permen) dan mudah diserap, kurang lebih 15 gram karbohidrat. Setelah itu konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi tentang perubahan pola makan. Beberapa pola makan yang direkomendasikan untuk penderita hipoglikemia reaktif adalah:

  • Konsumsilah makanan yang mengandung nutrisi seimbang. Ini termasuk protein, produk susu seperti keju dan yogurt, dan makanan berserat tinggi.
  • Batasi makanan tinggi gula, terutama yang memiliki indeks glikemik terlalu tinggi.
  • Hindari makanan tinggi gula sebelum tidur atau saat Anda tidak bisa makan selama beberapa jam seperti puasa.
  • Konsumsi makanan tinggi gula setelah puasa juga meningkatkan keadaan hipoglikemia reaktif.

Pos Setelah makan, gula darah Anda turun drastis? Apa alasannya? muncul pertama kali Halo Sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top